Pembangunan Embung Konservasi Kolong Mempaya Beltim

Pengambilan Tanah Urug Dalam IUP Timah Belum Kantongi Ijin

Syarifudin; "Apapun Resikonya Kita Tanggung Bersama"

Daerah  KAMIS, 17 SEPTEMBER 2020 , 17:35:00 WIB | LAPORAN:

Pengambilan Tanah Urug Dalam IUP Timah Belum Kantongi Ijin

Embung Konservasi Kolong Mempaya,.(foto-kdr)

RMOL BABEL. Disebut-sebut punya andil besar terkat jual beli ribuan meter kubik tanah puru (tanah urug-red) , Kepala Desa Mempaya, Syarifudin Umar akhirnya buka suara. Syarifudin Umar yang awalnya bergeming, akhirnya bereaksi setelah ramainya pemberitaan terkait dugaan keterlibatannya dalam penyediaan sumber tanah urug, untuk proyek pembangunan Embung Konservasi Kolong Mempaya, kecamatan Damat Belitung Timur.
Kades Syafrudin Umar didampingi kepala dusun dan BPD mengaku bahwa pengambilan ribuan kubik tanah puru untuk timbunan pada pekerjaan Tahap 1 Pembangunan Embung Konservasi Kolong Mempaya tahun 2019 lalu, sudah dikoordinasikan dengan pihak tertentu. Kegiatan pengambilan tanah utuk kegiatan proyek APBN itu sendiri menjadi sorotan, pasalnya diambil dari wilayah Ijin Usaha Pertambangan milik Pt. Timah Tbk

"Sudah koordinasi, karena sepengetahuan saya, Beltim belum ada Perda tanah puru, sehingga saya bersama BPD perangkat desa lainnya mengambil kebijakan menjadi penyuplai tanah puru untuk proyek yang dikerjakan oleh PT. Sartika Permata itu," jelas Syarifudin Jumat (11/9/20) lalu di kediamannya.

Terkait asal tanah puru yang diambil dari wilayah IUP PT. Timah Tbk tersebut, Syarifudin berpendapat bahwa itu bukan merupakan masalah. Pasalnya Syarifudin selain tak ada protes dari warga Mempaya, dirinya pun telah mengajukan permohonan rekomendasi kepada pihak PT. Timah selaku pemilik IUP, namun diakuinya hingga kini belum mendapatkan jawaban.

"Kami telah mengajukan permohonan rekomendasi ke PT. Timah 3 bulan lalu, memang belum ada jawaban hingga saat ini. Namun kami melihat masyarakat ini adalah juri, dan hingga saat ini tidak ada komplain dari masyarakat, kalau kami salah pasti ada yang komplain. Terkait rencana kegiatan proyek tahap 2 yang akan dikerjakan oleh PT. Lentera Kahuripan Indonesia, nanti hasil penjualan tanah puru tahap ke 2 ini, nanti akan dipergunakan untuk menambah jaringan pipanisasi air bersih di Desa Mempaya. Ada 250 KK yang belum dialiri air bersih," ulas Syafrudin.

Dari hasil penjualan tanah puru kepada PT. Sartika Permata, menurut Syarifudin, pihak Desa Mempaya menerima imbalan 1 unit mobil ambulan sebagai CSR PT. Sartika Permata. Syarifudin juga mengakui bahwa kebijakan yang diambilnya tersebut ada resiko. Namun kades Mempaya ini menegaskan bahwa dirinya siap menerima resiko atas hal tersebut.

"Apapun risikonya kami tanggung bersama," tegas Syafrudin.

Diketahui, pembangunan Embung Konservasi Kolong Mempaya tahap 2 ini dikerjakan oleh PT. Lentera Kahuripan Indonesia dengan nilai proyek Rp18.788.128.000. Menariknya, kepala proyek pada pekerjaan embung tahap 2, Kalit mengatakan tidak mau ambil pusing terkait timbunan yang akan dikerjakanya. Kepala proyek yang minta disapa Kalit ini juga tidak mau tau dari mana asal tanah timbunan itu berasal. Menurut Kalit terkait asal usul tanah itu merupakan urusan suplayer dan bukan urusan pihaknya.

"Kita ini beli. Saya ini diawasi oleh kepolisian, tipikor, diawasi kementerian. Kita siap menerima barang di tempat, dan perlu digaris bawahi saya tidak melakukan pencurian. Kita tahunya beli dari penyuplai, soal asalnya dari mana itu kembali ke suplayer nya," tegas Kalit saat dikonfirmasi Jumat (11/9/20)

Disinggung hubungan dengan perusahaan yang mengerjakan embung tahap 1, Kalit menegaskan tidak ada kaitan. "Tidak ada hubungan dengan perusahaan lama,” tutupnya.[kdr]



Komentar Pembaca