Belajar Toleransi dari Rusuh Wamena

Jemaat Gereja Lindungi Ratusan Keluarga Muslim Saat Rusuh Wamena

Nusantara  SENIN, 07 OKTOBER 2019 , 09:29:00 WIB

Belajar Toleransi dari Rusuh Wamena

Istimewa

RMOLBabel. Indonesia dibangun atas dasar perbedaan. Menghargai perbedaan merupakan kunci terciptanya perdamaian. Sejarah mencatat, tegaknya negara ini karena menghargai perbedaan suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA).
Tanpa toleransi, niscaya bangsa ini belum bisa lepas dari jeratan penjajahan. Maka, menjadi sangat ironi apabila perbedaan masih menjadi pemantik api kemarahan dan permusuhan antar sesama anak bangsa.

Meski harus diakui, kendati masih ada kelompok tertentu di negeri ini yang belum siap menerima perbedaan SARA, tapi selalu saja ada harmoni yang dirajut mereka yang mendamba kedamaian.

Tentang harmoni umat ini, ada kisah toleransi yang bisa dipelajari pasca peristiwa kerusuhan di Wamena 23 September lalu. Kali ini tokoh agama dari gereja Baptis Wesaroma melindungi 370 keluarga muslim dalam gedung ibadah. Salah satu tokoh gereja, Simet Yikwa mengatakan, mereka menyembunyikan keluarga muslim itu lebih dari lima jam.

Pada 23 September 2019 terjadi kerusuhan, sebagian kami selamatkan di gedung ibadah, sebagian lagi kami lindungi di belalang rumah saya, dan sebagian mereka dilindungi di rumah Hengky Yikwa anggota Jemaat Baptis dan juga anggota DPRD Mamberamo Tengah,” kata Simet Yikwa, Minggu (6/10).

Saat ditanya alasan menyelamatkan korban kerusuhan, Simet mengaku hanya melaksanakan ajaran yang ada dalam agamanya.

Waktu yang lain sibuk melindungi kawan-kawan muslim, ada yang marah dan bakar motor. Saya diteriaki kelompok Barisan Merah Putih (BMP). Tetapi, saya dengan istri sampaikan, kami laksanakan ajaran Tuhan Yesus dan juga ajaran Alkitab,” kata Simet.

Ia bahkan mencoba untuk meredakan situasi dengan menjelaskan bahwa muslim dan pendatang bukanlah musuh orang Papua. [Fth]

Komentar Pembaca