Kekeringan Picu Kerhutla

BMKG Prediksi Kemarau Terus Berlanjut hingga November

Januari-Agustus Ada 2.524 Kejadian Bencana

Nusantara  SABTU, 31 AGUSTUS 2019 , 10:41:00 WIB

BMKG Prediksi Kemarau Terus Berlanjut hingga November

BMKG

RMOLBabel. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia masih akan terus berlanjut hingga November 2019. BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau terjadi di bulan September.
"Agustus dan September kami prediksi merupakan puncak periode musim kemarau," terang Kepala Sub Bidang Analisa dan Informasi Iklim, Adi Ripaldi, di Gedung Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta Timur, Jumat (30/8) dikutip dari laman Rmol.id

Menurut Adi, prediksi tersebut muncul usai BMKG melakukan serangkaian monitoring di 6 ribu pos hujan yang tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan hasil pengamatan lainnya, sejumlah wilayah juga diprediksi masih akan mengalami kekeringan ekstrem (tidak ada hujan lebih dari 100 hari) sepanjang September.

Petugas Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Adi Ripaldi mengatakan, sebanyak 97 persen wilayah zona musim Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Kemungkinan musim hujan di Jawa bagian barat akan terjadi pada akhir Oktober, sedangkan wilayah lain pada November hingga Desember.

Sebab itu Adi meminta agar waspadai potensi karhutla yang meluas khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Menurut perwakilan LAPAN Indah Prasasti, indikator kemudahan kebakaran pada beberapa wilayah di Indonesia perlu mendapatkan perhatian.

Indah menyampaikan, provinsi yang masih perlu menjadi perhatian dalam penangangan karhutla adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Berdasarkan catatan BNPB pada awal hingga akhir Agustus 2019 telah terjadi 151 bencana yang berdampak pada korban meninggal 13 jiwa, luka-luka 7 dan mengungsi atau terdampak sejumlah 10.533.

Sedangkan kerusakan, sebanyak 1.498 rumah mengalami kerusakan dengan kategori berbeda. Korban meninggal timbul dipicu gempa bumi, sedangkan rumah rusak dominan oleh gempa bumi dan disusul puting beliung serta banjir.

Sebaran kejadian bencana tertinggi masih di Pulau Jawa, disusul Sumatera dan Kalimantan.

BNPB memonitor tiga wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi dan berurutan yaitu Jawa Timur dengan 43 kejadian, Jawa Tengah 20, Jawa Barat 13.

Sedangkan wilayah Sumatera, jumlah kejadian tertinggi di Provinsi Aceh dengan 18 kejadian. Kejadian bencana tertinggi pada wilayah Kalimantan yaitu di Kalimantan Selatan dengan 11 kejadian.

Sementara itu, pada periode Januari hingga Agustus 2019 ini sebanyak 2.524 kejadian bencana terjadi di wilayah nusantara. Dari sederet kejadian, korban meninggal mencapai 402 jiwa dan hilang 27, sedangkan kerusakan rumah 37.906 unit.

Kerusakan rumah tersebut dengan kategori berbeda, dengan rincian rusak berat 7.644 unit, rusak sedang 6.575, dan rusak ringan 23.687. Sedangkan jumlah warga yang menderita akibat bencana mencapai 3.464.347 jiwa.

Dilihat dari jenis bencana, puting beliung, banjir, dan tanah longsor, jumlah kejadian bencana pada 2019 lebih tinggi dibandingkan pada tahun lalu. Puting beliung pada 2019 berjumlah 816 kejadian, sedangkan 2018 pada angka 793.

Demikian juga kejadian banjir pada 2019 berjumlah 647, sedangkan tahun sebelumnya 582 dan longor 2019 pada 614 kejadian dan 2018 pada 404. [Lan/Stef]

Komentar Pembaca