Airlangga Patahkan Anggapan Golkar Partai Senjakala

Politik  JUM'AT, 16 AGUSTUS 2019 , 08:51:00 WIB | LAPORAN:

Airlangga Patahkan Anggapan Golkar Partai Senjakala

Airlangga Hartarto/Net

RMOLBabel. Memimpin Partai Golkar di masa injury time, Airlangga Hartarto mampu bekerja dalam senyap, membangun tim yang solid. Ia berhasil mematahkan pandangan pesimis dan skeptis segelintir kalangan, akan masa depan Golkar.
"Kondisi Partai Golkar saat awal dipimpin Airlangga seolah menjadi partai "zombie", mati tidak hidup tidak," kata Tubagus Alvin H, Direktur Indonesia Network Election Survey (INES), seperti dilansir Kantor Berita RMOL, Jumat (16/8).

Tubagus menyebut, kondisi Golkar bisa dikatakan tidak kondusif pasca Pilpres 2014. Terjadi perpecahan internal, dualisme kepengurusan yang saling klaim dan aksi saling pecat yang membuat Golkar seolah hanya berkutat pada persoalan internalnya saja.

Sengkarut itu sempat mendapat titik terang dengan terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketum di 2016. Tapi, belum lama berlayar di laut yang tenang, badai kembali datang.

"Perahu Golkar kembalil oleng saat Novanto ditahan terkait kasus korupsi pada 2017, disusul dengan terjeratnya kader-kader sentral lainnya dalam kasus hukum," ujar Tubagus.

Kondisi itu membuat banyak pihak pesimis. Kalangan pengamat bahkan para kader Golkar sendiri banyak yang tak yakin Golkar mampu bangkit untuk menghadapi Pemilu 2019.

Apalagi, Airlangga Hartarto yang terpilih menggantikan Novanto bukanlah tokoh populer-populer amat. Dia jarang terlihat depan kamera layaknya politisi lain yang gemar tampil di hadapan publik.

"Tapi, ada satu hal yang luput dari kebanyakan orang, bahwa Airlangga berlatar belakang profesional dan sebagai seorang menteri kabinet Jokowi, dia tentunya adalah orang 'kerja',” ujar Tubagus. 

Kerja Airlangga itu terbukti. Meski hanya punya waktu satu setengah tahun untuk berbenah, dengan mengusung tema Golkar Bersih dan Bekerja, Airlangga mampu membangun tim yang solid.

"Terbukti dengan raihan suara Partai Golkar di pemilu 2019 yang berhasil meraih kursi terbanyak ke-2 di DPR RI," ujar dia.

Bagi Tubagus, capaian tersebut juga mematahkan anggapan yang menyebut Golkar sebagai partai senjakala atau partainya orang tua. Peringkat kedua itu adalah bukti bahwa kaderisasi dan peremajaan di tubuh Partai Golkar berjalan dengan baik.

"Ingat, ceruk kaum milenial di 2019 cukup besar," ujar Tubagus.

Tubagus tidak sepakat dengan suara miring yang tetap menganggap Golkar telah gagal, karena meski berada di peringkat ke-2, namun jumlah kursi yang diperoleh lebih sedikit.

"Bagi saya pribadi, itu perbandingan yang tidak equal. Masa persiapan Airlangga sangat singkat dibandingkan ketum-ketum sebelumnya yang memiliki waktu persiapan 5 tahun."

Satu hal lagi yang menjadi keunggulan Airlangga, menurut Tubagus, adalah kemampuannya menjalin komunikasi dan bekerja sama secara baik dengan Pemerintah, baik dalam kapasitas Ketum Partai maupun dalam kapasitas profesionalisme sebagai menteri.

Dengan melihat rekam jejak tersebut, Tubagus yakin, di bawah kepemimpinan Airlangga, Golkar akan menjadi 100% Partai pendukung pemerintah. 

"Bukan partai pendukung yang suka "mbalelo" atau kalo bahasa anak sekarang itu 'kaleng-kaleng,'" tandas Tubagus Alvin. [fak]

Komentar Pembaca
Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

Gerindra Tolak Revisi UU KPK, Ada Apa?

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 , 06:44:37

Jokowi Teruji dalam Hal Kegagalan

Jokowi Teruji dalam Hal Kegagalan

KAMIS, 12 SEPTEMBER 2019 , 00:45:19

Kalimantan Timur Minta Jatah Menteri

Kalimantan Timur Minta Jatah Menteri

SENIN, 09 SEPTEMBER 2019 , 23:02:24