Sucofindo Diminta Konsisten Dalam Verifikasi Asal Usul Pasir Timah

Ekbis  JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 10:12:00 WIB

Sucofindo Diminta Konsisten Dalam Verifikasi Asal Usul Pasir Timah

Foto/Net

RMOLBabel. Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Dedy Yulianto meminta agar Superintending Company of Indonesia (Sucofindo) tetap konsisten melakukan verifikasi sesuai fakta di lapangan. Dalam hal ini, Sucofindo diminta tidak sekadar melakukan pemeriksaan berkas melainkan juga langsung turun ke lapangan.
Fakta di lapangan yang dimaksud Dedy adalah mencakup luas IUP, seberapa banyak unit tambangnya, dan jumlah produksi perhari. "Itu mesti jelas, jangan memverifikasi berkas saja," ucapnya menegaskan.

Ia menambahkan, meski pemilik IUP sudah mendapat kategori Clear & Clean (CnC), namun itu hanya masalah perizinan dan legalitas. Sedangkan, terkait asal usul pasir timah belum tentu CnC. "Karena itu, DPRD meminta asal usul barang mesti jelas," ujarnya.

Dedy mengingatkan, jangan sampai ada laporan IUP bodong, atau produksi palsu. Yang perlu diwaspadai, sambung Dedy, adalah jika IUP tidak pernah ditambang namun ada kuota ekspor. Selain itu, meski IUP lautnya luas, dan kerja samanya banyak tapi tidak memiliki KIP, lalu dari mana dapat pasir timah?

"Kalau itu terjadi, sama saja memberikan keterangan palsu dan dapat dipidanakan. Karena itu, Sucofindo dan pemerintah daerah harus tegas. Praktek verifikasi yang tidak sesuai fakta lapangan mesti dihentikan," kata Dedy.

Dedy juga meminta agar Gubernur tidak lagi mengeluarkan rekomendasi RKAB rekayasa, dan supaya seluruh IUP diumumkan ke publik. Hal ini penting sehingga masyarakat dapat membantu mengawasi dan memberikan informasi apakah pemilik IUP melakukan aktivitas penambangan atau tidak di area IUP-nya atau yang dikerjasamakan.

’’Kami melihat dalam pengajuan surat pengajuan ekspor oleh smelter, masih ada IUP dengan luas 10 ha, tidak ada IUP kerja sama bahkan tidak pernah dilakukan eksploitasi, namun dapat kuota ekspor. Ini kan sama saja akal-akalan, ini sama saja membuat laporan RKAB fiktif atau rekayasa,’’ terang Dedy.

Menurutnya, selama ini hampir 70 persen smelter di Babel terindikasi membuat laporan palsu dan fiktif tersebut untuk mengajukan persetujuan ekspor. Ironisnya lagi, rekomendasi RKAB rekayasa ditandatangani oleh pemerintah daerah.

Sebelumnya diberitakan, ada tiga perusahaan timah swasta di Babel mulai melirik Sucofindo demi bisa melakukan ekspor. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Refined Bangka Tin (RBT), PT Artha Cipta Langgeng (ACL), dan PT Mitra Stania Prima (MSP).

Menurut Direktur Komersial II Sucofindo Haris Wicaksono, selama ini pihaknya hanya bekerja sama dengan PT Timah Tbk. Akan tetapi, ia mengakui beberapa perusahaan swasta kini tengah dalam proses untuk bergabung dengan Sucofindo.

"Selama ini hanya PT Timah yang bekerja sama dengan kami. Sudah cukup lama, kalau ga salah sejak terbitnya Permendag M078/2012. Untuk perusahaan swasta, masih dalam proses. Kami sudah berikan sosialisasi tentang tahapan, prosedur, dan tata cara Sucofindo melakuan verifikasi,’’ ujar Haris di Pangkalpinang, beberapa waktu lalu. [ana]


Komentar Pembaca