Biaya Pencarian Seharusnya Ditanggung Lion Air, Bukan Negara

Personel Bertambah Jadi 869 Orang

Nusantara  SABTU, 03 NOVEMBER 2018 , 14:21:00 WIB

Biaya Pencarian Seharusnya Ditanggung Lion Air, Bukan Negara

Basarnas/Net

RMOLBabel. Seluruh biaya proses pencarian pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa barat semestinya ditanggung manajemen perusahaan yang didirikan oleh Rusdi Kirana itu. Bukan malah ditanggung oleh Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).
Pakar asuransi penerbangan, Sofian Pulungan menegaskan, tak hanya biaya terkait upaya pencarian korban, biaya evakuasi bangkai pesawat komersil yang jatuh semestinya juga ditanggung penuh oleh maskapai penerbangan.

"Memang seharusnya biaya social rescue itu tidak dibebankan kepada negara, apalagi APBN," tegasnya dalam diskusi bertajuk ‘Awan Hitam Penerbangan Kita’ di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/11).

Diakuinya, memang merupakan tugas dan kewajiban negara untuk melaksanakan eksekusi dari evakuasi dan penyelamatan. Namun pembebanan biayanya, tetap harus ditanggung oleh maskapai penerbangan.

Hal itu, katanya, disadari betul oleh seluruh maskapai penerbangan. Maka dari itu, setiap maskapai penerbangan sudah tentu punya asuransi tentang itu.

"Asuransinya termasuk asuransi social rescue. Jadi berapapun biaya social rescue itu sepenuhnya ditanggung asuransi. Jadi tidak ada dan tidak boleh APBN itu digunakan untuk membiayai social rescue ini. Karena ini merupakan uang negara dan APBN," pungkasnya.

Terpisah, jumlah personel pencarian serta evakuasi penumpang, kru, dan pesawat Lion Air PK-LQP ditingkatkan. Tim yang sebelumnya berjumlah 858 orang, kini bertambah menjadi 869 orang.

Personel ini terdiri dari Badan SAR Nasional (Basarnas) 201 orang, TNI Angkatan Darat (AD) 40 orang, TNI Angkatan Laut (AL) 456 orang, TNI Angkatan Audara (AU) 15 orang, Polri 58 orang, petugas Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) 30 orang, Bea Cukai 18 orang, Palang Merah Indonesia (PMI) 30 orang, serta Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla) 10 orang.

Selain itu ada dari Indonesia Diver lima orang dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Semarang enam orang.

Untuk pencarian wilayah perairan (unsur laut) mengerahkan 56 unit kapal dari sebelumnya 45 unit kapal. Luas area pencarian bawah air 270 NM2, antara lain daerah prioritas 1A bawah air dengan kapal Baruna Jaya serta daerah prioritas 1B dengan kapal Dunamos.

"Daerah prioritas 2 untuk pencarian permukaan air seluas 360 NM2 yang dioperasikan oleh 40 kapal dari Basarnas, Kementerian Perhubungan, Polair, KPLP, Bea Cukai dan Pertamina," ujar Corporate Communications Strategic Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulisnya.
 
Dia menjelaskan bahwa daerah prioritas penyelaman seluas 36 NM2 didukung oleh 127 tim penyelam gabungan, dengan rincian 17 orang TIM Basarnas Special Group (BSG), 38 orang dari Penyelam Komando Pasukan Katak (Kopaska), 28 orang Detasemen Jalamangkara (Denjaka), 17 Tim penyelam Taifib atau Batalyon Intai Amfibi Korps Marinir, lima orang Kantor Sar Semarang, tujuh orang Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Indonesia (KPLP), Korps Brigade Mobil (Brimob) empat orang, enam orang POSSI Semarang serta Indonesia Diver lima orang.

"Rencana operasi melalui pencarian udara seluas 190 NM2 menggunakan lima helikopter, yaitu satu unit HR-1519, satu unit HR-1301, satu unit NBO"105, satu unit NBO-105 Polri dan satu unit Dauphin Polri," sambungnya. Danang menyebut bahwa untuk unsur penanganan di darat tersedia ambulance 30 unit dari hari sebelumnya 24 unit, yang meliputi sembilan unit dari POLRI, PMI enam unit serta 14 unit instansi lainnya. [ian]


Komentar Pembaca
Pemprov DKI Segera Cairkan Bonus Atlet Asian Games
Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 , 17:00:00

Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

Saudi Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid

SELASA, 13 NOVEMBER 2018 , 17:00:00