Inilah Jurus PT Timah Cegah Kerusakan Lingkungan

Ekbis  MINGGU, 05 AGUSTUS 2018 , 19:04:00 WIB

Inilah Jurus PT Timah Cegah Kerusakan Lingkungan

Foto: Net

RMOLBabel. PT Timah Tbk tengah menerapkan teknologi unik yang dinamakan Sub Surface Mining. Alat sederhana ini dinilai mampu menghindari potensi kerusakan alam akibat aktivitas penambangan.
Sub surface mining juga mampu merekrut penambang ilegal di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung.

Direktur Operasi & Produksi Alwin Albar menjelaskan proses kerja per unit alat ini hanya membutuhkan luas tanah kira-kira 3 meter (m) x 3 m.

"Berbeda dari alat berat yang biasanya membuat galian hingga puluhan meter untuk menyedot timah di dasar tanah," katanya melalui siaran pers.

Dia menceritakan bahwa saat ini banyak warga sekitar kawasan yang melakukan penambangan ilegal. Dengan menggunakan Sub Surface Mining, PT Timah merangkul penambang ilegal untuk bekerja sama menggarap penambangan resmi.

"Kegiatan ilegal itu berbahaya. Kami mengajak masyarakat agar tidak lagi melakukan penambangan ilegal," ujarnya. Dia mengatakan, saat ini banyak antrian yang meminta alat Sub Surface Mining disebar ke banyak titik.

"Masyarakat tertarik, kita melibatkan masyarakat. Kami pasok teknologinya untuk dipakai masyarakat menambang. Saat ini bahkan sudah lumayan banyak yang meminta alat ini, tapi produksi kami masih terbatas," ujarnya.

Perusahaan yang mempunyai kode emiten TINS ini akan memberikan insentif untuk masyarakat yang berpartisipasi. "Kami beri insentif per hari," tambahnya.

Dia bilang masyarakat yang menambang timah secara ilegal karena butuh uang untuk menyambung hidup. Menurutnya alat ini jadi solusinya.

"Masyarakat  sebenarnya enggak perlu bijih timah, yang mereka butuh penghasilan dari hasil timah itu. Kalau ditertibkan itu sulit maka kita perlu berdayakan," ujar Alwin.

Lebih lanjut dia bilang Sub Surface Mining sendiri baru dicoba pada Februari 2018 dan saat ini sudah mulai aktif. Harga per unit sub surface mining sekitar Rp 100 jutaan.

Sub Surface Mining sendiri tergolong sebagai alat tambang kecil terintegrasi (TKT). Menurutnya TKT dapat menjadi solusi pola penambangan ramah lingkungan di Bangka karena secara teknis alat ini tidak harus melakukan pembukaan area yang luas.

"Alat ini tidak perlu mengupas overburden dan hanya memerlukan bukaan vegetasi yang sangat minimal. Keunggulan kompetitif alat ini yakni mampu menambang timah yang spotted namun high grade, di mana alat tambah sulit untuk menambangnya secara ekonomis," ujarnya.

Kontribusi yang dihasilkan oleh alat sub-surface hydrolic ini bisa mencapai 500 kg tambahan timah per bulan.

"Karena kita mulainya telat, rencana awal ditargetkan 500 kg-1 ton. Namun, karena kita baru mulai awal Agustus nanti, jadi target kami 500 kg dulu," sebut Alwin. [wid]

Komentar Pembaca
Jangan Karena Cari Keuntungan Label Halal Dihapus

Jangan Karena Cari Keuntungan Label Halal Dihapus

RABU, 18 SEPTEMBER 2019 , 12:31:48

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 , 08:22:15

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

Ada Enggar Di Balik Kasus Impor Pangan

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 , 01:14:11