Babel Harus Kondusif, GP Ansor Tegaskan 5 Komitmen Ini

Jelang Tahun Politik

Politik  SELASA, 13 MARET 2018 , 19:08:00 WIB

Babel Harus Kondusif, GP Ansor Tegaskan 5 Komitmen Ini

Foto: IST

RMOL. Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bangka Belitung (Babel) serta sejumlah organisasi kepemudaan berkomitmen untuk terus menjaga keharmonisan dan kerukunan di Bumi Serumpun Sebalai, terutama memasuki tahun politik.
Komitmen ini dituangkan dalam pembacaan deklarasi bersama dengan tema Intoleransi Dalam Kompetisi Politik Kuasa pada Forum Group Disscusion (FGD) yang diselenggarakan tadi siang (Selasa, 13/3). Sekertaris pelaksana FGD, Dian mengatakan kegiatan ini merupakan komitmen bersama agar tetap menjaga Babel kondusif.

"Tadi sudah dibacakan dengan beberapa perwakilan dari OKP dan teman-teman pengurus BEM yang ada di Babel untuk komit menjaga Babel tetap harmonis dan kondusif. Terutama menjelang tahun politik ini," ujar Dian lewat siaran pers kepada Redaksi Kantor Berita RMOLBabel.

Ia mengakui bahwa untuk menjaga situasi agar tetap kondusif dan harmonis tidak hanya tugas dari pemerintah dan aparat kepolisian saja, namun membutuh dorongan moril dari OKP untuk bersama-sama menjaganya."Disinilah peran OKP menjaga keharmonisan di Bumi Serumpun Sebalai," katanya lagi.

Dian pun berharap pembacaan deklarasi ini tidak hanya saja bersifat seremonial saja, akan tetapi lebih pada action untuk terus meningkatkan nilai keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama di Babel. "Melalui komunikasi yang intens sehingga nilai harmonisasi dan kerukunan antar umat beragama terus terjaga," harapnya.

Ia melanjutkan, dalam deklarasi ini ada lima poin yang dibacakan, yakni menghimbau kepada segenap elemen masyarakat tetap mengedepankan kecermatan, kejelian, rasionalitas dan kedewasaan dalam menempatkan kompetisi politik di setiap kabupaten/kota.

Lalu menghimbau untuk senantiasa menjunjung tinggi spirit dan nilai-nilai persaudaraan, kekeluargaan dan keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara.

Mengharapkan dengan penuh hormat, terutama bagi mereka yang menjadi bagian langsung dari kompetisi politik kabupaten/kota untuk tidak menonjolkan sentimentilitas berbasis SARA sehingga kebersamaan dan stabilitas sosial tetap menjadi modal dan aset bersama atasnama kebangsaan dan keindonesiaan.

"Kami juga meminta dengan hormat untuk tidak sekali-kali menjadikan masjid atau gereja atau vihara sebagai ruang kampanye politik. Sebagai rumah Allah (Tuhan), tempat ibadah adalah suci dan mesti dijauhkan dari gelora politik duniawi," tegasnya.

Dan yang terakhir, kata Dian, meminta tegas kepada pihak kepolisian dan penyelenggara pemilihan politik kuasa (KPU/Bawaslu) untuk menyiapkan langkah-langkah pengawasan di setiap tempat ibadah seperti masjid atau gereja atau vihara dan lain-lainnya, demi terciptanya kedamaian, kenyamanan, keharmonisan dan kelancaran pesta demokrasi yang jujur, adil, bermartabat, dan tidak dihantui sentimentalitas SARA. [ana]

Komentar Pembaca
Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

Anak Milenial Mesti Ikut Lokomotif Perubahan

JUM'AT, 14 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

SELASA, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017