Penduduk Miskin Di Babel Bertambah

Daerah  MINGGU, 07 JANUARI 2018 , 20:34:00 WIB

Penduduk Miskin Di Babel Bertambah

Ilustrasi/Net

RMOL. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatat kenaikan pada data penduduk di miskin.
Berdasarkan data BPS Babel per September 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Babel mencapai 76,20 ribu orang atau 5,30 persen, bertambah sebesar 2,12 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 74,09 ribu orang atau 5,20 persen.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2017 sebesar 2,89 persen naik menjadi 3,00 persen pada September 2017. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada  Maret 2017 sebesar 7,74 persen juga mengalami kenaikan menjadi 7,92 persen pada September 2017.

Pantauan RMOLBabel di laman babel.bps.go.id Minggu (7/1), selama periode Maret 2017"September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 1,57 ribu orang (dari 21,47 ribu orang pada Maret 2017 menjadi 23,04 ribu orang pada September 2017), sementara di daerah perdesaan naik sebanyak 0,55 ribu orang (dari 52,61 juta orang pada Maret 2017 menjadi 53,16 ribu orang pada September 2017).

Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan(perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2017 tercatat sebesar 72,64 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi Maret 2017 yaitu sebesar 72,31 persen.

Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun  di perdesaan, adalah beras, rokok kretek filter, daging sapi, daging ayam ras, kue basah, telur ayam ras, dan mie instan. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan yang besar pengaruhnya adalah biaya perumahan, listrik, bensin, dan pendidikan.

Menanggapi data BPS tersebut, Staf Khusus Gubernur Babel Bambang Ari Satria angkat bicara. Ia menilai bahwa faktor inflasi khususnya komoditi makanan pokok sekitar o,87 persen di periode September 2017 menjadi salah satu penyebab adanya kenaikan tingkat kemiskinan di Babel.

"Kalau kita lihat perkembangan kemiskinan Babel, angkanya fluktuatif. 2010 pernah di angka 6,51 persn, Maret 2015 5,40 persn dan September 2017 di angka 5,30 persen," terangnya melalui pesan singkat WhatsApp.

Adapun langkah dilakukan Pemprov Babel, lanjut dia, untuk mengatasi kondisi tersebut meliputi jangka pendek dengan program bantuan langsung raskintis dan program sosial lainnya.

Jangka menengah dan panjang, tambahnya, melalui kegiatan pemberdayaan dan penguatan ekonomi masyarakat berupa kube yang terus meningkat, transformasi dari sektor eksploitasi ke sektor industri pengolahan bahkan tersier. Kemudahan perizinan, penyediaan IUPR melalui program kemitraan, mengadakan event nasional dan internasional untuk menstimulir jasa hotel, transportasi dan restoran.

"Data lain menunjukkan pertumbuhan ekonomi kita meningkat dari 4,11 persen tahun 2016 menjadi 5,11 persen triwulan III 2017. Indeks ini rasio kita 0,282 persen. Ini menunjukkan bahwa ketimpangan di Babel dalam tingkat rendah. Artinya jurang si kaya dan si miskin di Babel tidak terlalu lebar," tutupnya. [ana]

Komentar Pembaca
RIAU TOLAK RELAWAN DARI JAKARTA, ANIES MENJAWAB ELEGAN
Jangan Karena Cari Keuntungan Label Halal Dihapus

Jangan Karena Cari Keuntungan Label Halal Dihapus

RABU, 18 SEPTEMBER 2019 , 12:31:48

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

Mengusung Tandu Toapekong Terbanyak

SELASA, 17 SEPTEMBER 2019 , 08:22:15