Hati-hati! Kesepian Bisa Jadi Ancaman Kesehatan

Bahayanya Lebih Besar Daripada Obesitas

Lifestyle  JUM'AT, 08 SEPTEMBER 2017 , 09:30:00 WIB

Hati-hati! Kesepian Bisa Jadi Ancaman Kesehatan

Ilustrasi/Net

RMOL. Semua orang pasti pernah mengalami kesepian dari waktu ke waktu. Namun sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa kesepian bisa menjadi ancaman kesehatan yang lebih besar ketimbang epidemi obesitas. Gagasan bahwa memiliki hubungan sosial yang lebih sedikit bisa menyebabkan kesehatan menjadi buruk bukanlah hal baru.
Namun penelitian yang dipresentasikan pada konvensi tahunan American Psychological Association, studi dua meta analisis data sebelumnya yang mencakup 218 studi, memberikan data yang lebih kuat dan menyatakan bahwa ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama.

Studi meta-analisis pertama melihat hasil penelitian sebelumnya yang meneliti lebih dari 300.000 orang dan menemukan bahwa mereka yang memiliki interaksi sosial lebih tinggi mampu menurunkan risiko kematian dini sebesar 50 persen.

Data penelitian terakhir yang meneliti lebih dari 3,4 juta orang menyimpulkan bahwa isolasi sosial, termasuk hidup sendiri bisa menyebabkan risiko kematian dini meningkat dan ini memberi dampak lebih besar pada kematian dini daripada obesitas.

"Ada bukti kuat bahwa isolasi sosial dan kesepian bisa meningkatkan risiko kematian dini secara signifikan dan besarnya risiko melebihi indikator kesehatan terkemuka," kata profesor psikologi di Universitas Brigham Young dan penulis utama, Julianne Holt-Lunstad, PhD, seperti dilansir laman Health.

"Menemukan diri Anda tidak bisa terhubung dengan orang lain bukanlah merupakan perasaan yang menyenangkan, tapi ini adalah kondisi manusia yang tak terhindarkan," kata Dr. Galynker, MD, ketua asosiasi untuk penelitian di departemen psikiatri di Mount Sinai Beth Israel di New York City.

"Sosialisasi mengaktifkan sirkuit penghargaan Anda dan secara mental bermanfaat, jadi tidak adanya hal semacam itu membuat penarikan yang serupa dengan perasaan lapar terhadap makanan," jelas Dr. Galynker.

Namun, sejumlah hal bisa memengaruhi seberapa sering atau dalam seseorang mengalami kesepian. Orang yang menderita depresi atau kecemasan cenderung merasa terisolasi dalam skala yang lebih besar, karena kesepian adalah keadaan pikiran.

"Seberapa sering dan seberapa dalam seseorang merasa kesepian diwarisi sampai tingkat tertentu, namun faktor lingkungan juga berperan dalam menentukan efek isolasi pada keseluruhan populasi.

Di Amerika Serikat, orang cenderung menghargai individualisme dan ketahanan diri lebih dari bagian lain di dunia ini. Pola pikir budaya ini menormalkan hidup sendiri, sementara budaya lain menghargai keluarga besar dan menghabiskan seluruh hidup mereka dengan anak-anak atau cucu mereka.

Budaya yang mengurangi nilai interaksi sosial menghasilkan sedikit orang yang berinteraksi dengan orang lain. Media sosial juga berperan. Sementara orang tua telah terbukti mendapat manfaat dari peningkatan komunikasi melalui internet, mereka yang secara alami tertarik pada isolasi menjadi semakin kesepian dan lebih sering menggunakan media sosial.

"Mereka mengganti internet untuk kontak manusia dan lebih cenderung mengembangkan kecanduan internet," pungkas Dr. Galynker. Cara terbaik untuk mengatasi perasaan terisolasi adalah dengan meminta pertolongan dan dukungan. [fny/jpnn]


Komentar Pembaca
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

KAMIS, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

Elektabilitas Rendah, Cak Imin Kepedean

RABU, 08 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

SBY Lebih Suka Jokowi Dibanding Prabowo

SBY Lebih Suka Jokowi Dibanding Prabowo

JUM'AT, 03 NOVEMBER 2017 , 17:00:00

SABTU, 17 JUNI 2017 , 16:46:00

KAMIS, 15 JUNI 2017 , 20:19:00

Dahlan Bersama Pengurus SMSI

Dahlan Bersama Pengurus SMSI

KAMIS, 22 JUNI 2017 , 12:56:00